
Kebutuhan Gizi Selama Hamil
Haii teman-teman, kembali lagi nih di blog aku, masih berkaitan sama pembahasan ibu hamil yang tadi aku post, sekarang aku akan melanjutkannya, sekarang kita bahas tentang kebutuhan gizi ibu hamil selama masa kehamilannya yaaaa...
Yang pertama banget nih aku bahas tentang diet untuk ibu hamil, pasti kalian bingung ya, kok ada diet untuk ibu hamil? Nah teman, jadi deit untuk ibu hamil ini untuk ibu hamil yang pertambahan BBnya itu udah besar banget, sementara badan si ibu nya kecil, nah untuk kasus ini harus diet yaa, tapi harus tetap memperhatikan gizi seimbang yaa... Langsung aja deh kita ke pembahasan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam Penyusunan Diet IBu Hamil adalah (1) Carilah bahan makanan yang padat gizi dan kaya akan asam folat. (2) Jangan pernah melupakan waktu Mmakan, terutama sarapan. (3) Harus makan yang cukup agar tercapai pertambahan BB optimal. (4) Jangan pernah mencoba menurunkan berat badan, atau menghindari pertmabahan BB normal. (5) Gunakan garam beryodium dalam jumlah sedang. (6) Memperbanyak minumair putih. (7) Jika BB bertambah dengan cepat, maka ibu hamil harus cepat ke dokter, dan jangan mengangani sendiri. (8) Tidak merokok.
Tujuan penataan gizi pada ibu hamil adalah menyiapakan (1) Cukup kalori, protein yang bernilai biologi tinggi, vitamin, mineral, dan cairan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi ibu, janin, serta plasenta. (2) Makanan padat kalori dapat membentuk lebih banyak jaringan tubuh bukan lemak. (3) Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan BB selama hamil. (4) Perencanaan perawatan gizi yang memungkinkan ibu hamil untuk memperoleh dan mempertahankan status gizi optimal, sehingga ibu hamil dapat menjalanin kehamilan dengan aman dan berhasil, melahirkan bayi dengan potensi fisik dan mental yang baik, dan memperoleh cukup energi untuk menyusui serta merawat bayi kelak. (5) Perawatan gizi yang dapat mnegurangi atau mneghilangkan reaksi yang tidak diinginkan, seperti mual dan muntah, (6) Perawatan gizi yang dapat membantu pengobatan penyulit yang terjadi selama kehamilan (diabetes kehamilan), dan (7) Mendorong ibu hamil sepanjang waktu untuk mengembangkan kebiasaan makan yang baik yang dapat diajarkan kepada anaknya selama hidup.
Perencanaan gizi untuk ibu hamil sebaiknya mnegaju pada RDA. Dibandingkan ibu yang tidak hamil, kebutuhan ibu hamil akan protein meningkat sampai 68%, asam folat 100%, kalsium 50%, dan zat besi 200-300%.
Bahan pangan yang digunakan harus meliputi enam kelompok, yaitu
- Makanan yang mengandung protein (hewani dan nabati)
- Susu dan olahannya
- Roti dan biji-bijian
- Buah dan Sayur yang kaya akan vitamin C
- Sayuran bewarna hijau tua
- Buah dan sayur lain
Jika keenam bahan makanan ini digunakan, seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh ibu hamil akan terpenuhi, kecuali zat besi dan asam folat. Itulah sebabnya mengapa suplementasi kedua zat ini tetap diperlukan, meskipun status gizi ibu yang hamil itu terposisis pada "jakur hijau" KMS ibu hamil.
Dulu, jika BB ibu hamil tidak sesuai dengan usia kehamilannya (sangat obese), mereka dianjurkan untuk mengurangi asupan energi dan NaCl (NaCl dianggap menahan air, sehingga mengakibatkan eklampsia). Prinsip ini sekarang sudah tidak digunakan lagi karena konsep semikelaparan dapat mneimbulkan ketosis, dan pembatasan asupan kalori akan berdampak pada berkurangnya asupan zat gizi lain. Kelebihan BB memang harus dikurangi, tetapi tidak dengan pembatasan diet, melainkan dengan melakukan olahraga sedang.
Energi
Besaran energi yang terasup merupakan faktor gizi paling penting jika dikaitkan dengan berat badan bayi lahir. Banyaknya energi yang harus disiapkan hingga kehamilan berakhir sekitar 80.000 Kkal, atau kira-kira 300 Kkal tiap hari diatas kebutuhan wanita tidak hamil. Nilai ini dihitung berdasarkan kesetaraan dengan protein dan lemak yang tertimbun untuk pertumbuhan janin dan keperluan ibu.
Kebutuhan akan energi pada trimester I sedikit sekali mneingkat. Setelah itu sepanjang trimester II dan III, kebutuhan akan terus mneingkat pada akhir kehamilan, Energi tambahan pada trimester II diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu, yaitu pertumbuhan volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara, serta penumpukan lemak. Sepanjang trimester III, energi tambahan digunakan untuk pertumbuhanan janin dan plasenta.
Karena banyak perbedaan kebutuhan energi selama hamil, WHO menganjurkan jumlah tambahan sebesar 150 Kkal sehari pada trimester I, dan 350 Kkal selama trimester II dan III.
Protein
Sama seperti energi, kebutuhan wanita hamil akan protein membubung samoai 68%. Jumlah protein garus tersedia sampai akhir kehamilan diperkirakan sebanyak 925 gr yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, dan bayi. Jika PER dianggap 70%, rata-rata pertambahan protein adalah 8,5 gr/hari. Jika koefesien variabilitas sebesar 15%, tambahan ini meningkat menjadi 10 gr/hari. National Academy of Sciences mematok angka sekitar 30 gr.
Di Kanada, tambahan yang dianjurkan adalah 5 gr pada trimester I, 15 gr pada trimester II, dan 34 gr pada trimester III. Asupan protein tidak boleh berlebihan, karena selain tidak bermanfaat, kelebihan protein justru akan membahayakan. WHO menganjurkan protein sebesar 10-15% dari total kalori. Pemberian suplementasi protein lebih dari 20% energi total, pada kenyataannya justru memundurkan pertumbuhan janin, di samping bayi prematur dan kematian neonatal.
Bahan pangan yang dijadikan sumber sebaiknya (1/2 bagian) merupakan bahan pangan yang bernilai biologi tinggi, seperti daging tanpa lemak, ikan, telur, dan hasil olahannya. Protein yang berasal dari tumbuhan (bernilai biologinya rendah) cukup 1/3 bagian saja.
Zat Besi
Anemia gizi karena kekurangan zat besi masih lazim terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kebutuhan Fe pada ibu hamil meningkat (untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah) sebesar 200-300%. Perkiraan besaran zat gizi yang perlu ditimbun selama hamil adalah 1.040 mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika melahirkan dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg besi ditransfer ke janin, dengan rincian 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah sel darah merah, dan 200 mg lenyap ketika melahirkan. Jumlah sebanyak ini tidak mungkin tercukupi hanya melalui diet. Karena itu, suplemen zat gizi harus diberikan, bahkan kepada wanita yang berstatus gizi baik.
Penambahan asupan besi, baik lewat makanan dan atau pemberian suplemen, terbukti mampu mencegah penurunan Hb. Tanpa suplemen, cadangan besi dalam tubuh ibu akan habis pada akhir kehamilan. Untuk menjaga agar stok ini tidak terkuras dan mencegah kekurangan, setiap ibu hamil dianjurkan untuk menelan besi sebanyak 30 mg per hari. Takaran ini tidak akan terpenuhi hanya melalui makanan. Oleh karena itu, suplemen sebesar 30-60 mg, dimulai pada minggu ke 12 kehamilan yang diteruskan samapi 3 bulan pasca melahirkan, perlu diberikan setiap hari.
Hati-hati, jangan terlalu beremangat memberikan Fe. Kasusu kelebihan dosis memang belum terdengar di Indonesia. Namun di Amerika Serikat, dilaporkan terjadi 2000 kasus intoksikasi besi setiap tahun. Keracunan besi mudah dan lazim terjadi pada pecandu alkohol menahun yang mnegonsumsi anggur murahan karena mengandung banyak sekali besi. Di samping itu, penting diingat, tambahan besi sebaiknya diperoleh dari makanan, karena tablet besi terbukti dapat menurunkan kadar seng dalam serum. Intinya harus banyak makan makanan yang mengandung zat besi, tapi tetap ada tambahan suplemen zat besi. Makanan yang mengandung zat besi adalah daging merah, kuning telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan buah.
Asam Folat
Asam folat adalah satu-satunya vitamin yang kebutuhannya selama hamil berlipat dua. Sekitar 24-60% wamita, baik di negara berkembang maupun negara maju, mengalami kekurangan asam folat, karena kandungan asam folat di dalam makanan mereka sehari-hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pada saat kehamilan. kekurangan asam folat mengakibatkan lelah berat dan gangguan tidur. dua kondisi pertama menyebabkan kaki kejang. Kekejangan ini biasanya timbul pada malam hari, sehingga lama kelamaan akan mengganggu tidur penderita, yang dikanal sebagai retless leg syndrome. Jika kekurangan asam folat bertambah parah, akan terjadi anemia yang ditandai dengan penampakan kelelahan dan depresi.
Kekurangan asam folat berkaitan dengan berat bayi lahir rendah (BBLR), albasio plasenta, dan neural tube defect (anensefali dan spina bifida. Bayi yang mengalami kalainan pertama biasanya lahir mati, sementara spina bifida jika diobati dengan tepat masih dapat hidup hingga dewasa, tapi dengan kecacatan.
Jenis makanan yang banyak mengandung asam folat antara lain ragi, hati, sayuran berdaun hijau, dan kacang-kacangan. Sumber lain adalah ikan, daging, jeruk, dan telur. Jeruk ukran sedang atau secangkir air jeruk, setengah cangkir brokoli masak, dan setengah cangkir kacang tanah.
Karena tidak stabil dalam pemanasan, dan mudah rusak jika dimasak, sayuran sebaiknya dimakan mentah setelah di cuci dengan air mengalir untuk melenyapkan sisa pestisida dan atau telur cacing. Di samping itu, harus diperhatikan pula pengganggu penyerapan lain, seperti alkohol, kontrasepsi oral, barbiturat, aspirin, dan obat antikejang.
Kobalamin (Vitamin B12)
Anemia pernisiosa yang disertai dengan rasa letih yang parah adalah akibat dari kekurang vitamin B12. Vitamin ini sangar penting dalam pembentukan RBC (Sel darah merah). Anemia pernisiosa biasanya tidak disebabkan oleh kekurangan B12 dalam makanan, melainkan oleh ketiadaan faktor instrinsuk, yaitu sekresi gaster yang diperlukan untuk penyerapan B12. Gejala anemia ini meliputi rasa letih dan lemah, diare, depresi, mengantuk, mudah tersinggung, dan pucat. Di antara golongan vitamin B kompleks, vitamin B12 memang unik karena sangat jarang didapat dari tanaman, tetapi banyak didapat dalam daging atau produk olahan dari binatang. Bersama asam folat, vitamin ini menyintesis DNA dan memudahkan pertumbuhan sel.
Vitamin B12 penting sekali bagi pertumbuhkembangan normal RBC, dan keberfungsian sel-sel sumsum tulang, sistem persarafan, dan saluran cerna. Tubuh dapat menyimpan B12 di hati dalam jumlah yang adekuat untuk persediaan selama 5 tahun. Itulah sebabnya mengapa defisiensi berat jarang terjadi.
Pangan sumber vitamin B12 adalah hati, telur, ikan (terutama ikan tuna), kerang, daging, unggas, susu, dan keju. Asupan yang dianjurkan sekitar 3 mikrogram sehari, sebutir telur mengandung 1 mikrogram, secangkir susu menyimpan 1 mikrogram. Disamping faktor instrinsik, faktor lain yang mengganggu penyerapan B12 adalah alkohol, pil KB, dan senyawa tertentu dalam rokok.
Vitamin D
Kekurangan vitamin D selama hamil dapat menimbulkan gangguan metabolisme kalsium pada ibu dan janin. Gangguan ini berupa hipokalsemia dan tetani pada bayi baru lahir, hipoplasia enamel gigi bayi, dan oestomalasia pada ibu. Insidensi dapat ditekan dengan pemberian 10 mikrogram per hari. Kekurangan vitamin D kerap menjangkiti ibu hamil yang bermukim di daerah yang hanya sedikit bersentuhan dengan sinar matahari sehingga sintesis vitamin D di kulit tidak terjadi (Dengan demikian, wanita yang mengenakan jilbab meskipun bermukim di daerah tropis, tetap berisiko tinggi untuk mengalami kekurangan vitamin D). Makanan yang mengandung vitamin D adalah ikan laut seperti ikan tuna, salmon, susu dan olahannya, tempe, tahu, dan susu kedelai.
Yodium
Kekurangan yodium selama hamil mengakibatkan janin menderita hipotiroidisme, yang selanjutnya berkembang menjadi kretinisme, karena peran hormon tiroid dalam perkembangan dan pematangan otak menempati posisi strategis. Kerusakan saraf akibat hipotiroidisme yang terjadi pada akhir kehamilan tidak separah jika hal ini terjadi di awal kehamilan. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap kekurangan yodium sebaiknya dilakukan sebelum atau selama 3 bulan pertama kehamilan. Anjuran asupan per hari untuk ibu hamil dan menyusui adalah sebesar 200 mikrogram.
Di antara cara-cara ini, pemberian garam beryodium memang lebih mudah, namun masih ada masalah dalam hal pendistribusian dan atau pertahanan mutu yodium yang terkandung. Selepas dari pabrik, terutama selama penyimpanan di gudang dan warung, garam beryodium akan terpajan panas dan yodium cepat menguap sehingga yodium cepat menjadi rusak.
Kalsium
Kadar kalsium dalam darah ibu hamil menyusut sampai 5% dibanding wanita yang tidak hamil. Asupan anjuran adalah 1200 mg/hari untuk ibu hamil berumur diatas 25 tahun, dan cukup 800 mg untuk mereka yang berusia lebih muda. Sumber utama kalsium adalah susu dan hasil olahannya seperti susu skim, yohurtm keju, dan sumber lain seperti bahan makanan nabati seperti sayuran warna hijau tua dan lain-lain. Namun bayam dan kentang jangan dijadikan sumber kalsium karena keterkandungan oksalat atau filtrat yang berkemampuan menghambat penyerapan mineral ini.
Sumber: Mb, Arisman. 2010. Edisi 2. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
PENTING...
Teman-temen terimakasih banyak ya sudah mau mampir ke blog ku.... Jangan lupa untuk memberi kritik dan saran yang membangun agar aku dapat membagikan ilmu yang aku pelajari lebih baik lagii... Terimakasih ....
Comments
Post a Comment